Berita Konyol
Melihat matahari menerobos awan Saat punggungku lelah menahan beban Mendengar gosip aku mati patah hati Serta begitu banyak informasi Hei.. kawan! Sekarang berita tampak seperti limbah Menyebar dengan begitu mudah Mengapa harus kita dengar semua? Lebih baik mengabaikannya
Cahaya Bulan
Aku mendengar lembut bisikan angin di malam hari Menembus celah-celah gelap di pepohonan Sebagai suara alam dalam harmoni Yang mana ribuan daun menghadang cahaya bulan Hingga aku berjalan di tempat terbuka Memandang bulan tampak sempurna Keemasan dengan berkarat noda Ditemani kerlap-kerlip cahaya
Pantai di Khatulistiwa
Ombak bergulung, berlarian ke tepi pantai Berlomba mencumbu pasir putih yang kering Memancar terang terik matahari Jauh terlihat nelayan memancing Memandang laut di khatulistiwa Suasana pantai dan alam sekitarnya Berjalan di hangat pasir Rasakan udara mendesir
Dua Mawar Merah
Dua mawar merah yang indah Disiram gerimis sejam yang lalu Butir-butir air masih terbaring di daun Menanti sinar matahari untuk menghilang Semilir angin turun dari bukit Melewati petak-petak sawah Mengajak berdansa Berayun ditopang ranting berduri
Apakah Salah Bila Mereka Marah?
Kita tahu pohon-pohon berguna untuk kita Kita tahu air berguna untuk kita Kita tahu udara berguna untuk kita Kita tahu tanah berguna untuk kita Kita tahu hutan berguna untuk kita Kita tahu lautan berguna untuk kita Kita tahu alam berguna untuk kita Lalu apa guna kita untuk mereka?
Hatiku Merona di Kawah Putih
Aku telusuri jalan yang kian tinggi Bertingkat-tingkat ladang ditanami bawang dan stroberi Aku lihat hijau menguasai bukit-bukit tinggi Sejuk udara membuat wajahku berseri-seri Dua turis asing berdiri di pinggir jalan Mencuri keindahan untuk dijadikan kenangan Bergaya sederhana sambil menikmati alam Seperti menemukan kenikmatan yang terpendam
Ibuku
Di lain mimpi, ada hadirmu Di bulan sabit, ada senyummu Di dalam pelangi, ada warnamu Di dalam pikiranku, ada bayangmu Mudah aku ingat tentangmu Lembut kasih cintamu Pancaran wajahmu Semangat di jiwamu
Pergi Terawih Saat Rembulan Bersinar Terang
Azan telah berkumandang Di saat rembulan bersinar terang Orang-orang pergi terawih dengan hati senang Tiada ragu, tiada bimbang Semilir angin menerpa Mengirim sejuk setelah panas di siang hari Membawa kenikmatan beribadah kepadaNya Mengalirkan kedamaian ke dalam hati
Meninggalkan Bandung di Malam Hari
Malam hari masih dinanti Lampu-lampu kota setia menerangi Udara dingin tak menyurutkan hati Menghabiskan sedikit waktu untuk menyenangkan diri Mengendari mobil klasik ke pusat kota Berpindah dari titik nol di jalan Asia-Afrika Melewati lampu-lampu malam yang memancar terang Melihat sebuah bisnis malam dijaga dua lelaki garang
Gadis Berwajah Sendu
Mendengar lagu sedih di kedai kopi sederhana Memandang wajah cantik tapi dia sedang terdiam Seperti memikirkan sesuatu dalam kehidupan fana Air matanya menetes mengapa dia masih diam Aku memandangnya tak bersuara Menahan pilu membuat hati ini sakit sekali Serpihan hati ini tajam menusuk hati Dia seperti patung tapi hidup dalam nelangsa







