Menjemputmu
Melihat kala itu Senja menjadi kelabu Kilaunya perlahan padam Bersemi gelap sang malam Dalam bayang pikiranku Berkelana mencari titik temu Terlihat semburat masa Membingkai jalinan rencana
Pertanda Untukku
Sesempurna kata-kata dalam pikiranku Melayang jauh jatuh padamu Di antara lesatan api membakar jiwa Terperangkap untuk sekian lama Melewati getir kehidupan Menolak banyak ketakutan Yang berpayung awan-awan bimbang Seolah menelungkupku telanjang
Merajut Asa
Mengucap doa merajut asa Endapkan jerit hati yang lara Terus mencoba meski menahan letih Kuatkan impian terhujam perih Lewati ruang-ruang sepi Pastilah gelap akan bertepi Bawa lentera cahaya hati Terangilah jalan hidup ini
Rupa Itu
Kadang sesuatu membuatku tidak banyak bicara Tapi terasa bergemuruh di dalam jiwa Seolah hati bertutur tiada akhir Mengajakku sedalam mungkin untuk berpikir Saat matahari tenggelam dunia berubah temaram Warna-warna mulai kabur runtuh pada sang malam Dan pikiranku telah terperangkap rupa Bersemayam untuk sekian lama
Perbedaan
Melebur kehidupan di dalam jiwa kita Terasa erat dipeluknya Di dalam hati mengucap doa-doa Senantiasa berlindung pada Sang Pencipta Masihkah kau anggap hati kita begitu lemah? Di saat kita satukan langkah Berkerumun banyak beda Aku tak risau tentangnya
Kenangan
Ketika kita terhanyut oleh masa lalu Mengulas kumpulan cerita terbelenggu Seolah melihat peristiwa-peristiwa Yang terekam dengan sangat sempurna Seperti saat sedang diliputi kekacauan Seolah hanya ada perlindungan Tuhan Mengasihi kehidupan kita Hati kita tertempa
Tidak Sendiri
Ketika kau mencoba begitu keras Kadang tubuhmu menjadi lemas Diserbu begitu banyak masalah Hingga keyakinanmu mulai goyah Kau tidak sendiri Semua orang pernah mengalami Adakalanya sesuatu menjadi begitu buruk Seolah semua sudah terpuruk
Berita Konyol
Melihat matahari menerobos awan Saat punggungku lelah menahan beban Mendengar gosip aku mati patah hati Serta begitu banyak informasi Hei.. kawan! Sekarang berita tampak seperti limbah Menyebar dengan begitu mudah Mengapa harus kita dengar semua? Lebih baik mengabaikannya
Romantika Kehidupan
Duhai engkau yang di sana Yang tersiram prahara Langkahmu masih seperti biasa Tapi menahan sesuatu yang menusuk dada Duhai engkau yang di sana Bersemilah seperti tunas menghijau Kembalilah seperti permata berkilau Meski dipenuhi perasaan amat galau
Tergerus Waktu
Kita yang tergerus waktu Kian lama, kian tua Tidak perlu lagi menunggu Lakukan selagi bisa Tinggalkan saja kegagalan di masa lalu Persilahkan orang lain melakukan sesuatu Ia punya rencana, kita pun juga Hingga tampak lebih nyata







