0

Semangat

Posted by Aan Hendarto on 13 Mei 2012 in Catatan Harian |

Ketika saya berkerja di sebuah perusahaan, tim saya yang terdiri dari tiga orang. Kami duduk tegang dan menerima kemarahan dari atasan saya. Kedua teman saya mencoba menjelaskan detail masalah yang sedang kami hadapi di lapangan, tapi atasan tetap memarahi tim saya dan tidak ingin tahu, dengan kata-kata yang tidak sopan sebagai atasan. Saya rasa itu penghinaan bagi kami. Hingga kemudian membuat kami sangat kecewa. Kedua teman saya terlihat suntuk. Tapi saya sedikit beruntung karena telah sedikit lebih banyak mendapatkan pengalaman penghinaan hingga membuat saya tidak banyak komentar. Tapi wajah saya sedikit merah karena kekacauan itu hingga mengubah wajah saya yang biasanya terlihat sedikit pucat. Karena kekacauan itu salah satu teman saya ingin mengundurkan diri dari perusahaan. Karena desakan keluarga yang tidak terima kalau diperlakukan seperti itu. Tapi saya dan teman saya yang satu lagi berhasil membujuknya untuk tidak berhenti karena sulit mencari penggantinya, sementara deadline pekerjaan kami sudah ditentukan sesuai kontrak yang telah kami tanda tangani. Kami berupaya menyelesaikan tanggung jawab. Tapi setelah koordinator tim ingin memecat kami, saya sedikit lebih lega. Saya tidak mengelak kalau tim saya gagal. Bila perusahaan ingin memecat anggota tim saya, saya akan terima. Tapi pimpinan perusahan lebih bijak dalam mengambil keputusan, hingga kami dipertahankan hingga menyelesaikan pekerjaan kami. Kami pun menyelesaikan pekerjaan itu sesuai deadline yang telah ditentukan.

Mungkin anda menyebutnya itu hal biasa, saya pun juga. Tapi yang membekas dari pengalaman itu adalah dimana kami tetap menjaga kepercayaan di antara kami. Kami berkomunikasi dengan sangat baik meski tim kami terpisah menjadi dua bagian. Satu teman menyewa tenaga tambahan agar pekerjaan kami selesai pada waktunya. Lebih sekedar untuk menghilangkan penat, kami lebih sering bercanda. Saya sering menggoda teman saya saat di perjalanan yang jauh dan amat melelahkan. Dengan lelucon yang amat gila. Dimana anda akan menyebut kami sinting karena membuat lelucon itu. Tapi anda tidak akan tahu itu. Kami melakukan itu karena kami teman yang sangat dekat, dimana orang lain tidak akan tahu mengenai rahasia kami. Sungguh! Tapi yang membuat teman saya bergairah adalah istrinya yang saat itu sedang hamil. Dia akan menjadi bapak. Saya suka cara dia mengungkapkan ekspresi. Dia suka bernyanyi dan mengulang kata hingga beberapa kali seperti burung Beo. Kata itu adalah “Semangat!” Hingga tidak pernah bosan di saat situasi sedang genting.

Mengapa kata semangat menjadi begitu penting dan dapat membawa perubahan besar?

Saya tidak perlu menjelaskan pertanyaan itu bila anda telah merasakan kesaktiannya. Tapi yang belum tahu, pasti sedikit bingung mengapa kata “Semangat!” mempunyai kesaktian. Sebenarnya yang membuat kesaktian itu timbul adalah kepercayaan dan pola pikir. Ini seperti kita akan menghidupkan lilin untuk penerangan. Supaya lilin itu memberi cahaya, kita akan menyalakannya dengan api. Mungkin semangat dapat dilambangkan dengan api itu. Saat kita dilanda keresahaan, banyak tugas, atau kehilangan banyak tenaga karena melakukan pekerjaan, kata “Semangat!” dapat menjadi energi untuk memulihkan tenaga selain makan dan minum, dan juga istirahat.

Kata “Semangat!” telah menjadi mantra yang berhasil menyihir banyak orang. Untuk tetap berusaha melewati kondisi yang sangat sulit. Mungkin anda telah banyak mengenal kata-kata mutiara, berderet dengan beberapa kata hingga mengubah pandangan anda ke arah yang lebih baik. Tapi kata “Semangat!” adalah kata yang istimewa. Ada yang menyebut kalimat pembangkit yang terbentuk dari satu kata dengan penambahan tanda seru menurut selera penggunanya. Kata ini dapat berjajar dengan kata-kata yang fenomenal, yang memberi banyak perubahan hanya dengan satu kata, seperti berjuang, kedamaian, kesetiaan, dan cinta.

Kata “Semangat!” telah terbukti sangat sakti. Silahkan anda buktikan secara ilmiah tentang fenomena ini. Apakah pengaruhnya dengan kerja horman di otak manusia? Atau sistem saraf? Penelitian ini akan sangat berguna untuk mempelajarinya lebih lanjut. Saya tahu tentang ini hanya melihat fenomena. Bagaimana dengan anda? Apakah anda telah membuktikannya?

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Copyright © 2010-2014 Aan Hendarto All rights reserved.