0

Kisruh Musim Kemarau

Posted by on 4 Agustus 2010 in Cerita Anak |

Pada suatu hari di musim kemarau yang terik sekali, pohon-pohon terlihat seperti mati. Daun-daunya berguguran. Sementara sungai yang mengalir di sampingnya mulai mengering. Ikan-ikan (3ikan) gelisah karena kekurangan air. Mereka bergerombol di bawah pohon untuk melindungi diri dari panas. Tapi batu besar di bawah pohon terus-terusan mengejek ikan-ikan itu.

Batu : “Ha.. ha.. ha… Kasihan deh kalian! Kepanasan ya..”

Ikan1 : “Enak kamu batu. Kamu ga ngrasa yang kami derita.”

Pohon : “Batu! Kamu gak boleh gitu. Kita kan hidup berdampingan.

Jadi harus tolong menolong.”

Ikan2 : “Iya, Batu. Kita harus tolong menolong.”

Batu : “Maap… Maapin aku ya…”

Ikan1,2,3 : “Iya.. iya…”

Tak lama kemudian, Angin Muson berlari melintasi mereka.

Pohon : “Hei Angin! Tunggu sebentar.”

Pohon berseru memanggil angin muson.

Mendengar seruan itu, Angin Muson berhenti.

Angin Muson : “Ada apa Pohon? Aku sedang sibuk nih.”

Ponon : “Aku ingin bertanya padamu.”

Angin Muson : “Cepat! Cepat! Mau tanya apa?”

Pohon : “Kenapa awan hitam tak bersamamu.”

Angin Muson : “Dia lagi bertugas di tempat lain.”

Ikan1 : “Wah, gawat dong!

Angin Muson : “Kenapa ikan?”

Ikan2 : “Kami kekurangan air nih…”

Ikan1,3 : “Iya… iya… tolong kami dong.”

Angin Muson : “Iya. Nanti aku sampaikan padanya.”

Angin Muson kemudian berlari berputar-putar ke udara, dan kemudian dengan cepat menjauhi mereka.

Sesaat setelah angin muson pergi, awan putih mendekati mereka sambil tertawa.

Awan Putih : “Ha… ha… ha…”

Batu : “Hei.. awan putih. Kenapa kamu tertawa terus?”

Awan Putih : “Aku lagi senang.”

Batu : “Kenapa?”

Awan Putih : “Sekaranglah aku penguasa langit.”

Pohon : “Kok bisa gitu sih.”

Awan Putih : “Karena awan hitam lagi bertugas di tempat yang sangat jauh sekali.

Makanya aku jadi penguasa langit.”

Mendengar perkataan awan putih, matahari terlihat geram. Dia langsung mencerca awan putih.

Matahari : “Hei, awan putih. Akulah penguasa langit! Kamu ga boleh berkata

seperti itu.”

Awan Putih : “Wah, matahari. Cuman beberapa bulan aja kok. Nanti kalau

awan hitam datang, aku tidak jadi penguasa langit lagi.”

Matahari : “Tidak bisa dong! Akulah yang tetap menjadi penguasa langit.

Awan Putih : “Cuman di musim kemarau aja kok. Masak ga bisa sih.”

Matahari : “Tetap aja ga bisa!”

Matahari dan Awan Putih berantem memperebutkan kekuasaan, sementara ikan, batu dan pohon melerai mereka.

Pohon : “Matahari… Awan Putih… Kalian gak boleh kelahi.”

Ikan1 : “Iya, kalian ga boleh kelahi terus.”

Ikan23&batu : “Iya… iya…”

Ikan-ikan menjulur-julurkankan siripnya. Sementara Batu terlihat keberatan melonjak-lonjak karena berat tubuhnya.

Matahari dan Awan Putih berhenti berkelahi. Mereka mengalihkan pandangan karena seruan yang menggebu-gebu di bawah sana.

Pohon : “Nah, gitu dong! Kan suasana tidak bertambah panas.

Apa kalian ga merasakan yang kami rasakan?”

Matahari dan Awan Putih menggeleng-geleng. Mereka tidak tahu apa yang Pohon maksud.

Awan Putih : “Memang apa yang kalian rasakan?”

Tanya Awan Putih sambil kebingungan, sementara matahari manggut-manggut seolah-olah mempunyai pertanyaan yang sama dengan Awan Putih.

Ikan1 : “Kami sedang kekuarangan persedian air. Kami akan mati

karena kekurangan air.”

Matahari : “Wah, gawat sekali! Tapi tenang teman-teman.

Sebentar lagi musim hujan akan tiba.”

Awan Putih : “Iya teman-teman. Saudaraku awan hitam nanti akan segera

menyelamatkan kalian. Kalian harus bersabar ya!”

Ikan&Pohon : “Iya… iya…”

Akhirya setelah menempuh bermil-mil jauhnya, dan disertai kesabaran yang luar biasa, wuss… wuss.. Angin Muson dan Awan Hitam melintasi tempat itu sambil membawa berjuta-juta liter air.

Ikan, pohon, dan batu bergembira. Mereka melonjak-lonjak kegirangan.

Ikan,Pohon,Batu: “Hore… Hore…”

Mereka berseru sambil melonjak-lonjak.

Ikan1 : “Akhirnya hujan datang juga ya…”

Tak lama kemudian, turunlah hujan yang amat deras. Air sungai dikit demi sedikit bertambah banyak. Ikan-ikan kian senang. Mereka berenang ke sana kemari sambil bernyayi. Sementara Awan putih memeluk awan hitam. Matahari, batu, dan pohon saling tersenyum. Pelangi ikut menghiasi dunia. Dan dunia pun terasa damai seperti taman di surga.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Copyright © 2010-2014 Aan Hendarto All rights reserved.