0

Belajar Dari Penghormatan

Posted by Aan Hendarto on 7 Mei 2012 in Catatan Harian |

Salah satu upaya kita untuk menghormati diri sendiri adalah memperlakukan diri sendiri pada tindakan yang benar. Kita dapat dihormati orang lain karena karakter kita yang sesuai dengan orang lain. Selain itu juga, kita harus pandai menghormati orang lain karena orang lain ingin diperlakukan dengan baik oleh kita. Bagaimana kalau penghormatan kita tidak mendapatkan tanggapan baik?

Apa yang kita perbuat adalah cermin hidup yang dapat orang lihat. Sebagaimana kita melakukan tindakan yang benar-benar dari lubuk hati kita dan bukan hanya terlihat baik bagi banyak orang di sekitar kita. Bila kita percaya Tuhan, kita pasti tahu ini. Bahwasanya semua tindakan kita, apa yang kita pikirkan dan kita rencanakan telah diketahui. Karena Tuhan Maha Mengetahui. Apa yang salah dan apa yang benar. Bagaimana hubungannya dengan penghormatan kita pada seseorang?

Mari kita berpikir lebih sederhana. Kita melakukan tindakan baik terhadap seseorang dan apapun tanggapan seseorang itu terhadap tindakan kita, entah tanggapan itu baik atau buruk, Tuhan akan memberikan balasan yang baik pada kita. Dapat berupa pelajaran hidup, kesabaran, atau pertemanan. Jangan mengharapkan semua tindakan kita akan mendapat tanggapan yang baik. Terkadang kita akan mendapat tanggapan yang kurang berkenan terhadap kita. Apa manfaat yang dapat diambil dari perlakuan seperti itu? Yang jelas agar kita bertindak lebih baik lagi. Kita dapat membusungkan dada kita dengan gagah agar terlihat tegar dan dihormati, tapi kita juga dapat menundukan badan dan pandangan untuk menghormati seseorang yang kita hormati. Kita juga dapat tersenyum anggun setelah itu. Penjelasan sederhana yang dapat kita lakukan sehari-hari adalah menghormati seseorang yang pantas dihormati. Jangan menghormati koruptor yang secara jelas berjiwa kerdil dan hina. Kita akan lebih mulia menghormati orang miskin yang berusaha mencari rejeki yang halal untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Ada beberapa orang menyebut orang yang bersedia mendengarkan curahan hati adalah tong sampah. Tapi kalau kita sedikit mengerti tentang ini, kita akan mengambil pelajaran. Dimana pendengar dapat belajar memahami permasalahan orang lain meskipun pendengar belum tentu bisa menyelesaikan permasalahan saat itu juga. Tapi setidaknya pendengar mengerti permasalahan itu dan mencari solusi agar masalah itu dapat diatasi. Anggap saja itu pelajaran yang sesuai atas kesediaan sebagai pendengar. Tapi istilah tong sampah itu sebenarnya tidak tepat. Istilah itu beredar karena pola sosialisasi dan pencitraan pada sebuah ide sebutan yang dilontarkan di media. Sehingga menyebar secara meluas atas sikap seseorang untuk dinilai dari tindakan. Karena curahan hati bukanlah sampah, tetapi masalah atau pemikiran yang harus dihadapi dan diselesaikan hingga orang yang berhubungan dengan itu menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Dari pendengar dan terlebih-lebih bagi yang memiliki curahan hati. Sedangkan istilah tong sampah tidak tepat kalau itu ditujukan pada orang-orang yang memberi perhatian lebih atas masalah atau pemikiran yang orang lain hadapi. Yang lebih tepat adalah matahari pagi. Karena matahari pagi memberikan kehangatan ketika dingin dan memberi cahaya setelah gelap.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Copyright © 2010-2014 Aan Hendarto All rights reserved.